Langsung ke konten utama

Ngambang

Ada yg berbeda di malam ini. Sosokmu menyelinap di fikiranku. Bukan tentang rindu. Bukan pula kenangan. Hanya sebatas peranmu yg kembali bermanuskrip di angan angan. Yg kembali berkacak pinggang, memerakan tokoh figuran namun intens. Bukan protagonis, maupun antagonis. Bukan di prolog, bukan pula di epilog. 

Datar. Namun lebih berombak dibanding gelombang ultrasonik. Lebih bergejolak dibanding euforia PPKM covid jilid 2. Entahlah, aku susah mendeskripsikan sosokmu di fikiranku kali ini. 

Feel ku menguat. Tapi aku tak mengerti ke arah mana. Tak menahan langkahku untuk maju, tapi juga tak membiarkan langkahku mundur. Memang sebenar benarnya. Aku tak paham. 

Yg ku ingin hanya, malam ini, duduk di tepian danau, kita bercengkrama. Membicarakan hal tak penting sekalipun. Kabarmu, kabarku, kabar kora kora yang tak kunjung beroprasi... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

New Chapter for My "F"

Haha sudah usang ternyata. Aku kembali dengan cerita baru. Kembali ke blog keramat yang isinya umpatan2 manis terkait hati yang sampai saat ini masi "tak terkonsep". Waktu berjalan lambat pada keadaan hati yang porak-poranda. Semalam air mataku berjingkrak kembali. Bercampur dengan luapan emosi kepadanya yang tak berujung tenang. Entah manusia macam apa kau. Empati NOL.  Kami kembali bersama setelah tragedi "nguping" malam itu. Tepatnya kau yang memilih kembali. Dengan segala resiko yang akan terjadi di kemudian hari. Entah setan atau malaikan yang memenangkan hatiku ketika itu. Semalam aku berhadapan dengan monster. Mengapa tak kau katakan saja yang sebenarnya. Aku bukan jaksa penuntut umum yang menuntutmu bersujud di kelingking jari kakiku. Dan permintaanku tak semuluk-muluk korban investasi bodong Indra Kenz.  Mengapa kau sulit sekali menangkap maksudku. Cukup bilang "Iya, nanti kalau kau menyakannya lagi, aku bilang apa adanya." Cukup. Maka dunia akan ...

Air Mata Akhir Tahun

 Aku terpelanting ke semak-semak, dengan separuh bajuku robek termakan siang. Ditambah penghuni pelaminan yg saat ini blm menemukan singgasananya. Seperti tersambar puting beliung tanpa pusaran angin. Hampa.. dan kini.. kosong.. Aku meniginkan teman seperjuangan. Yang bisa menyaksikan setiap tawaku pecah di dedaunan. Namun, kata-katanya sedikit menghantam permukaan pelipisku. Entah baik atau buruk. Memang kalo bukan teman, apa lagi? Di sampingku suaranya masih mencoba mangajak bermain. Namun mood ku sudah porak poranda. Aku tak ada tempat berteduh. Hujan sore ini hanya terkekeh sekelebat. Di hatiku hanya hamparan kosong tanpa makna. Duka ini belum kering, namun dia menyirami lagi hingga basah. Lelah.. Mau Kau ganti dengan apa? Aku takut pertanyaanku terkesan tinggi. Sesalku sudah menggunung. Aku tak mau menambah tingginya dengan keangkuhan. Aku hanya bisa menangis. Membuang air mata yg entah sudah berapa kali lipat bila dibandingkan dengan madu di bunga soka.  Kosong. Benar-be...