Aku terpelanting ke semak-semak, dengan separuh bajuku robek termakan siang. Ditambah penghuni pelaminan yg saat ini blm menemukan singgasananya. Seperti tersambar puting beliung tanpa pusaran angin. Hampa.. dan kini.. kosong..
Aku meniginkan teman seperjuangan. Yang bisa menyaksikan setiap tawaku pecah di dedaunan. Namun, kata-katanya sedikit menghantam permukaan pelipisku. Entah baik atau buruk. Memang kalo bukan teman, apa lagi?
Di sampingku suaranya masih mencoba mangajak bermain. Namun mood ku sudah porak poranda. Aku tak ada tempat berteduh. Hujan sore ini hanya terkekeh sekelebat. Di hatiku hanya hamparan kosong tanpa makna. Duka ini belum kering, namun dia menyirami lagi hingga basah. Lelah..
Mau Kau ganti dengan apa? Aku takut pertanyaanku terkesan tinggi. Sesalku sudah menggunung. Aku tak mau menambah tingginya dengan keangkuhan. Aku hanya bisa menangis. Membuang air mata yg entah sudah berapa kali lipat bila dibandingkan dengan madu di bunga soka.
Kosong. Benar-benar kosong. Adzan masih menghiasi langit. Gema nya sedikit menggetarkan hatiku, bahwa, kesempatan masih ada, untuk, aku, memperbaikin puing-puing sisa badai penyesalan.
Cukup dulu, ya. Entah tulisan ini berjumpa dengan mataku berapa juta detik lagi. Tapi yang jelas, aku ingin membacanya lagi dengan kebahagiaan dan kesyukuran yg berlimpah. Aku percaya, Allah itu baik, kan? Pasti..
Komentar
Posting Komentar
minta coment nya donk ^_^